Jumat, 26 Februari 2016

cerita dari pasumpahan

Cerita dari pasumpahan



Apa kabar sahabat...
Masih setia mendengar kisah kisah ku...
Pada pos kali ini saya akan menceritakan tentang perjalananku ke pulau pasumpahan-sumbar untuk mengikuti kegiatan scholarship camp. Kami berangkat pada malam hari. saya beserta kawan kawan yang ikut dalam pelatihan ini berangkat ke pasumpahan dengan menggunakan mini bus, dengan tempat penantiannya di sekre Himate (himpunan mahasiswa teknik) UIN Suska Riau, universitas tempatku menimba ilmu.

Perjalanan selama 9 jam harus kami tempuh. Didalam minibus aku habiskan waktu dengan tidur, cukup lelah rasanya serta kondisi tidur membuat leher agak sakit karena tidak bisa bersandar dengan nyaman. Kami singgah hanya untuk makan dan sholat lalu melanjutkan perjalanan lagi. Pada pagi harinya sekitar pukul 6 WIB kami tiba di sungai pisang. Dari sini kami harus menaiki kapal nelayan untuk sampai ke seberang, kira kira membutuhkan waktu 15 menitan. 


Melihat kembali lautan biru terhampar dan hempasan ombak kecil membuatku merasa damai dan begitu tenang.


Di tengah perjalanan mataku dimanjakan oleh birunya air, serta gugusan pulau pulau yang cantik. Dari jauh kami sudah dapat melihat pulau yang kami tuju, deretan nyiur ada disana, tenda tenda camping pun sudah bertengger ditepiannya. Kami turun dari kapal. Oh ya, kami menggunakan dua perahu melayan, karena bukan hanya mahasiswa yang ikut pelatihan ini, namun juga beberapa orang dosen serta keluarga.


Perahu merapat di bibir pantai dan kami menurunkan barang barang bawaan, lalu bersegera mendirikan tenda yang diapit dua balai balai kecil yang sudah disewa panitia sebelumnya. "Pengalaman camping di tepi pantai ku pertama ini" gumamku dalam hati. Setelah mendirikan tenda kami diberi waktu untuk beristirahat, aku gunakan waktu ini untuk membersihkan diri, badan begitu gerahnya setelah melewati perjalanan semalam.



Pelatihan hari pertama kamipun dimulai, sesuai rencana kami akan stay dipulau selama 2 hari, dan besok kami pulang. Pak kunaifi selaku instruktur menyajikan berbagai berbagai materi dimulai dari pengenalan AAS (australian award scholarship) beserta seluk beluknya, karena beliau menerima beasiswa tersebut untuk melanjutkan program magisternya di salah satu universitas di Australia dan berhasil berhasil memperoleh gelar magisternya disana. Pak kun, begitu panggilan akrab kami juga merupakan penerima beasiswa LPDP tahun 2015, dan akan segera melanjutkan pendidikannya di universitas twente pada tahun ini. Senang sekali bisa mendengar langsung ilmu, kiat kiat serta pesan pesan dan tentunya pengalaman langsung dari orangnya. Pak kun menjelaskan materi tentang AAS pada hari pertama pelatihan, lalu kami ishoma pada siangnya dan melanjutkan materi setelah. Pada siang harinya pak kun mempresentasikan tentang pengenalan beasiswa LPDP kepada peserta. Gaya bicaranya yang tenang dan berisi membuat kami bersemangat mendengarkan meski udara panas membuat peluh bercucuran menganak sungai. sedikit alay ya... Hehehe

Masih begitu tergiang ditelingaku kata kata beliau " beasiswa ini terlalu nikmat untuk kunikmati sendiri". Kita bisa menerjemahkan kedalam persepsi masing-masing. Bagiku beasiswa ini adalah jalan tol kearah kemajuan. 

Sore harinya setelah sholat asyar, jadwal kami adalah bebas. Sayang sekali kalau tidak memamfaatkan waktu untuk bergembira. Kami berenang di tepian pantai sembari menyelam melihat ikan ikan kecil yang berenang bebas disana. Sebagian dosen memilih untuk berlatih berenang karena lebih mudah untuk mengapung di air asin. Senang sekali rasanya, kami tertawa bersama tidak pandang umur, maupun jabatan, mahasiswa dan dosen layaknya teman akrab, saya pun membantu ibu ibu dosen untuk belajar berenang, hahaha, kayak pakar aja berenang nya, hahaha. Edisi berenang hari ini ditutuo dengan main ayunan. Kebetulan di tepi pantai ada ayunan dari kayu. Kami bergantian naik disana. Walau agak susah menaikinya hal ini menjadi kelucuan menarik diantara kami, apalagi ketika kami berebutan menaiki ayunan dan beberapa kali ada adegan terjatuh dan kata kata lucu yang terlontar membuat kami tak bisa menahan tawa dan akhirnya tawa kamipun pecah.

cerita dari pasumpahan

Apa kabar sahabat...
Masih setia mendengar kisah kisah ku...
Pada pos kali ini saya akan menceritakan tentang perjalananku ke pulau pasumpahan-sumbar untuk mengikuti kegiatan scholarship camp serta tentunya berlibur, selagi libur kuliah. Sebenarnya ini adalah cerita sambungan dari kisah ku dengan banjir kemaren, pada hari kedua aku dirumah, malamnya saya beserta kawan kawan yang ikut dalam pelatihan ini berangkat ke pasumpahan dengan mrnggunakan mini bus, dengan tempat penantiannya di sekre Himate (himpunan mahasiswq teknik) UIN Suska Riau, universitas tempatku menimba ilmu.

Perjalanan selama 9 jam harus kami tempuh. Didalam minibus aku habiskan waktu dengan tidur, cukup lelah rasanya serta leher sakit karena tidak bisa bersandar dengan nyaman. Kami singgah hanya untuk makan dan sholat lalu melanjutkan perjalanan lagi. Pada pagi harinya sekitar pukul 6 WIB kami tiba di sungai pisang. Dari sini kami harus menaiki kapal nelayan untuk sampai ke seberang, kira kira membutuhkan waktu 15 menitan. 

Melihat kembali lautan biru terhampar dan hempasan ombak kecil memoriku melayang pada saat menjalani program kapal pemuda nusantara sail tomini selama satu bulan lama. Ssssttt... Tapi ini pos itu selanjutnya, saya akan menceritakan pengalamanku sebagai duta bahari selama satu bulan dan bertemu dengan teman seluruh indonesia serta ASEAN, yukkk ikuti terus. Kembali ke laptop!

Di tengah perjalanan mataku dimanjakan oleh birunya air, serta gugusan pulau pulau yang cantik. Dari jauh kami sudah dapat melihat pulau yang kami tuju, deretan nyiur ada disana, tenda tenda camping pun sudah bertengger ditepiannya. Kami turun dari kapal. Oh ya, kami menggunakan dua kapal melayan, karena bukan hanya mahasiswa yang ikut pelatihan ini, namun juga beberapa orang dosen serta pemateri tentunya bersama keluarganya. 

Kapal merapat dan kami menurunkan barang barang bawaan, lalu bersegera mendirikan tenda yang diapit dua balai balai kecil yang sudah disewa panitia sebelumnya. "Pengalaman camping di tepi pantai ku pertama ini" gumamku dalam hati. Setelah mendirikan tenda kami diberi waktu untuk beristirahat, aku gunakan waktu ini untuk membersihkan diri, badan begitu gerahnya setelah melewati perjalanan semalam.

Pelatihan hari pertama kamipun dimulai, sesuai rencana kami akan stay dipulau selama 2 hari, dan besok kami pulang. Pak kunaifi selaku instruktur menyajikan berbagai berbagai materi dimulai dari pengenalan AAS (australian award scholarship) beserta seluk beluknya, karena beliau menerima beasiswa tersebut untuk melanjutkan program magisternya di salah satu universitas di Australia dan berhasil berhasil memperoleh gelar magisternya disana. Pak kun, begitu panggilan akrab kami juga merupakan penerima beasiswa LPDP tahun 2015, dan akan segera melanjutkan pendidikannya di universitas twente pada tahun ini. Senang sekali bisa mendengar langsung ilmu, kiat kiat serta pesan pesan dan tentunya pengalaman langsung dari orangnya. Pak kun menjelaskan materi tentang AAS pada hari pertama pelatihan, lalu kami ishoma pada siangnya dan melanjutkan materi setelah. Pada siang harinya pak kun mempresentasikan tentang pengenalan beasiswa LPDP kepada peserta. Gaya bicaranya yang tenang dan berisi membuat kami bersemangat mendengarkan meski udara panas membuat peluh bercucuran menganak sungai. sedikit alay ya... Hehehe

Masih begitu tergiang ditelingaku kata kata beliau " beasiswa ini terlalu nikmat untuk kunikmati sendiri". Kita bisa menerjemahkan kedalam persepsi masing-masing. Bagiku beasiswa ini adalah jalan tol kearah kemajuan. 

Sore harinya setelah sholat asyar, jadwal kami adalah bebas. Sayang sekali kalau tidak memamfaatkan waktu untuk bergembira. Kami berenang di tepian pantai sembari menyelam melihat ikan ikan kecil yang berenang bebas disana. Sebagian dosen memilih untuk berlatih berenang karena lebih mudah untuk mengapung di air asin. Senang sekali rasanya, kami tertawa bersama tidak pandang umur, maupun jabatan, mahasiswa dan dosen layaknya teman akrab, saya pun membantu ibu ibu dosen untuk belajar berenang, hahaha, kayak pakar aja berenang nya, hahaha. Edisi berenang hari ini ditutuo dengan main ayunan. Kebetulan di tepi pantai ada ayunan dari kayu. Kami bergantian naik disana. Walau agak susah menaikinya hal ini menjadi kelucuan menarik diantara kami, apalagi ketika kami berebutan menaiki ayunan dan beberapa kali ada adegan terjatuh dan kata kata lucu yang terlontar membuat kami tak bisa menahan tawa dan akhirnya tawa kamipun pecah.

Malam harinya pun keseruan masih berlanjut, agenda pada malam ini adalah bakar ayam serta membuat gorengan bakwan. Dan yang lucunya bakwan yang dibuat chef dadakan selalu habis tiap tiap gorengan matang. Haha, gorengan bakwannya sudah berpindah ke dalam perut. Disisi lain pun anggota perkumpulan bakar ayam sudah memulai eksekusi. Daging ayam dengan potongan besar besar sebelumnya telah dikukus dengan bumbu bumbu dan dibawa panitia dari pekanbaru dan setelah itu digoreng lagi sebentar lalu baru dibakar, wah kayak resep ya, tapi sungguh malam itu, sajian makanannya terasa begitu istimewa. Bukan hanya karena ayamnya yang super enak dengan tambahan sambal cabe kecap tapi suasana kekeluargaannya terasa sekali. Dan pada saat sesi makan makan usai kami mulai merasai akibatnya. Satu persatu berlarian ke toilet. Ternyata oh ternyata, ... (Bagian ini disensor) hahaha

Pada pagi harinya agenda dilanjutkan dengan mendaki ke atas puncak pasumpahan. Belum afdhol kalau ke sini belum menaiki puncaknya. Namun treknya hanya mampu dilewati oleh orang dengan hati yang bersih dan amal kebaikan yang banyak.uupss emangnya shirat ya, hehe, becanda. Tapi memang betul, jalan menuju ke puncak cukup menantang, dengan ada bebarapa trek perjalanan dan kita hanya diberi pegangan berupa tali untuk menuju keatas, mungkin, perkiraanku mungkin pada trek pertama kemiringannya sekitar 65 derajat. Cukup curam. Dan tentunya memerlukan energi yang ekstra.
Tapi kelelahan selama mendaki rasanya terbayarkan sudah oleh indah nya pemandangan. Dengan drone (sejenis pesawat kamera) milik pas nesdi, kami mengekplorasi pulau, begitu indah. Setelah puas ber foto foto kami pun turun, tentunya denga perjuangan yang sama. Ayoo semangat. Setalah selesai kegiatan panjat bukit sama istirahat bersama dengan kegiatan makan serta mandi. 

Pelatihan pun dilanjutkan, pagi ini kami mendapat ilmu tentang beasiswa LPDP, tentang seluk beluk serta syarat syarat mendapat, bagaimana cara melengkapi dokumen persyaratan sampai pada mendaftar LPDP secara langsung. Beberapa peserta pun membuat account beasiswa langsung dengan dibimbing pak kun. Pak kun menyampaikan materi dengan sangat baik dan terstruktur. Dari beliau aku mendengar pengalaman pengalaman hebat selama beliau menimba ilmu di luar negeri. Dari beliau pula aku tahu bahwa kita tidak boleh pesimis juga jangan terlalu berlebihan optimis, kedua sifat ini tak akan menghantarkan kita pada kesuksesan yang sejati.

Hari semakin siang, sesuai rencana kami akan kembali bertolak ke pekanbaru. Agak sedih rasanya. Pengalaman selama dua hari ini terasa kurang. Ingin rasanya lebih lama disana tapi kami harus kembali. Perkuliahan akan dimulai pekan ini. Kami mengemasi barang barang lalu bertolak meninggalkan pulau. Dan sampai ditepian kami singgah sebentar dirumah ibu dan bapak seraya berterima kasih karena telah mempersiapkan makanan dan transportasi kami selama kami camping. Saat kami mau berangkatpun kami masih disediakan es teh sebagai pelepas haus.akhirnya kami izin pulang. Rencanyanya kami (mahasiswa dan panitia) akan pulang dengan menggunakan kereta api arah ke pariaman lalu mnyewa mini bus disana untuk pulang ke pekanbaru karena lebih hemat. Namun karena jam sudah menunjukkan pukul 5 lebih, kami tertinggal kereta terakhir dan memutuskan pulang dengan menggunakan minibus. Sementara rombongan dosen pulang dengan kenderaan peribadi. Dan alhamdulillah semuanya selamat wal afiat sampai ke pekanbaru. 

Perjalanan ini menyisakan banyak makna dan makna itu mengandung banyak pelajaran. Ayo bersama kita berjuang, berjuang untuk mengejar impian. Karena kita tahu kita bisa

"AMERIKA AKU DATANG"
MAN JADDA WAJADA

#30 DWC hari ke 12


Kamis, 25 Februari 2016

tentang aku dan banjir 3

Sambungan



Alangkah terkejutnya diriku, ternyata daratan setelah jembatan gantung masih tergenang banjir. Sebagian warga masih mengungsi dan sebagian lagi bermain ditengah genangan banjir tak terkecuali anak anak. Begitu riangnya mereka berendam disana bertolak belakang sekali dengan suasana hatiku saat itu, kacau, satu kata yang terpikir "pulang" bagaimanapun caranya. Aku melihat ada perahu pengangkut barang dan penumpang disana. Aku dekati bapaknya dan mengatakan maksud dan tujuanku pada mereka dan berharap mereka bisa membantu. Sejurus kemudian aku serasa mendapat pertolongan namun sekilas kemudian air mataku hampir meleleh mereka bilang awalnya bisa dan setelahnya tidak bisa. Bahkan aku ditinggalkan begitu saja disana dan mereka memilih mengantar penumpang lain. Walaupun aku sudah berkata pada mereka bahwa aku akan menerima walaupun hanya diantar sekejappun dan aku akan membayar walaupun uang didalam dompetku cuma 12 ribu rupiah. Itupun adalah uang pinjaman dari temanku untuk naik angkot pada awalnya. Aku begitu bersikeras, kukatakan hal itu berkali kali pada mereka tapi mereka tetap acuh. Sedih sekali rasanya. Pikiranku menerawang. Kucoba telpon berkali kali orang dirumah berharap mereka bisa menjemputku, tapi telpon mereka semua tidak aktif, aku tahu, listrik yang sudah mati sejak 3 hari yang lalu tentu membuat battere hp mereka kosong. Untungnya aku sempat mencas hp pada saat pengungsian kemaren sehingga setidaknya aku bisa berjaga jaga dikalau ada yg menelpon.

Aku masih tetap disana. Terpaku ditengah genangan banjir. Cukup lama. Hingga tiba tiba kudengar seseorang memanggilku dari arah depan. Sesorang yang asing bagiku, dia masih muda dan tangannya menarik sebuah jerigen berisi minyak mungkin bensin, aku mengiranya. Dia berjalan didepanku dengan temannya dan juga bawaan yang sama. Laki laki itu menyuruhku mengikutinya. Entah kenapa langkah kakiku spontan mengikutinya, dengan menyeret ditengah genangan air. Rasanya cukup sulit dan kakiku terasa berat, namun kuteruskan langkahku. Hampir kuterjerembab karena kakiku menyangdung pembatas semen dipinggir jalan yang tertutup banjir. Ternyata genangan banjir itu cukup jauh hingga akhirnya aku sampai ditepi batas air. Disana aku bisa melihat jalanan kering karena daratannya lebih tinggi. Laki laki itu menyuruhku menunggunya di sana sembari dia menghantar bawaannya dan menjemput sepeda motornya. Tak ada kata yang keluar dari mulutku selain anggukan dari kepalaku. Aku terdiam disana. Aku coba meraih hp di tasku dan menelpon kerumah lagi, tapi lagi lagi hp mereka tidak aktif. Lalu dengan sedikit frustasi, aku menelpon seorang teman jauh disana, sedikit menghiburku sedikitnya aku masih bisa bercakap cakap dengannya. Kukatakatan padanya bahwa rasanya aku ingin menangis. Dan anehnya, dia menyuruh untuk menangis, dia mengatakan bahwa dia juga pernah mengalami masa masa sulit, juga pernah berjalan jauh seorang diri dan juga pernah merasa sendiri. Aku maklum tentang hal itu dan mencoba menyabarkan diri.

Tak lama berselang, laki laki itu datang dengan sepeda motornya, lalu kami berlalu dari sana. Aku tidak tahu seperti apa medan yang akan kami hadapi, dalam pikirku semua akan baik baik saja tak ada lagi air yang menghadang disana. Hingga kami sampai pada sebuah jembatan disana. Jalanan terputus oleh genangan banjir serta jembatan yang runtuh akibat terjangannya. Laki laki itu memarkirkan kenderaannya ditepi jalan lalu mengkah mengarungi banjir. Aku mengikutinya dari belakang. Arus airnya begitu deras sehingga kuputuskan untuk membuka sendalku. Dan ketika sandal itu kubuka, seketika tajamnya bebatuan dan pecahan pecahan aspal menghujam kakiku. Sakit dan perih. Aku bisa saja memilih untuk tetap memakai sandal itu. Namun hal itu akan semakin berbahaya karena derasnya arus mungkin akan menyeretku dan tidak ada tempat bergantungan disana. Akhirnya aku mengerti maksud dari kata kata laki laki itu selagi diatas motornya, dia berkata " kamu bukan penakut kan". Ya itulah maksudnya.

Perjuangan itu belum berakhir sampai disana, masih ada medan yg harus kami sebrangi. Dan medan ini menurutku lebih ekstrem lagi. Jika pada medan pertama engkau masih bisa berjalan dan air hanya sebatas paha. Pada medan kedua ini ketinggian air melebihi tinggiku. Disana ada tali yang dibentangkan tempat untuk menggantung. Laki laki itu meminta barang barangku untuk dibawakannya dan aku mengikutinya. Aku bergantung pada seutas tali itu, air sampah membasahi rambutku walaupun tertutup hijab. Sekuat tenaga aku bergelantungan disana dan membawa tubuhku kearah tepi. Pecahan aspal tentu masih ada, perih dikaki tak apa aku rasa. Yang penting selamat. Akhirnya dengan tubuh basah kuyup aku menghuyung keatas. "Selamat" bisikku dalam hati. 

Setelah sampai diseberang, laki laki itu meminjam sepeda motor dari kenalannya yang kebetulan ada disana. Dan kami melanjutkan sisa perjalanan dengan sepeda motor itu. Hening begitulah pada mulanya, hingga laki laki itu menanyakan nama dan sebagainya. Akupun menjawab sekenanya. Dalam hatiku, sungguh aku berterima kasih pada laki laki ini. Aku memintanya untuk mengantarkan aku ditepi jalan saja, tak sampai kerumah, terasa ada yg menahanku. 

Sampai disimpang jalan arah kerumah, seraya turun aku menanyakan berapa ongkos yang harus aku bayar atas semua bantuannya. Aku tahu cuma ada 12 ribu uang didompetku, nilai itu sangatlah kecil untuk membayar ongkosku hari ini. Dan sempat kuberpikir laki laki itu berkata" tidak usah bayar, aku ikhlas ingin menolong" bagitu katanya. Aku mengucapkan terima kasih banyak padanya. Ketika dia hendak pergi, aku baru ingat, aku belum tahu namanya, dengan setengah berteriak aku pertanyakan namanya, dan diapun menjawabnya. Setidaknya aku tahu siapa nama orang yang telah membantuku hari itu dengan segala kerendahannya. Dia waktu itu menyaksikanku kebingungan dan mungkin merasa kasihan terhadapku. Aku sungguh berterima kasih, Tuhan menggerakkan untuk menolongku. Tuhan selalu ada untuk hambanya, kapanpun. Tapi kadang sering kita yang memberikan pengabaian dan berlindung pada kelupaan. TAMAT.

#30 DWC hari ke 11

Rabu, 24 Februari 2016

tentang aku dan banjir 2



Sambungan


Setelah bercerita tentang beberapa bagian pengalamanku tentang banjir di pos sebelumnya, saya akan membagikan cerita selanjutnya tentang aku dalam banjir. 

Aku masih berada dirumah temanku, ikut mengungsi bersama mereka hingga tiga hari tiga malam banjit melanda. Aku ingin sekali pulang kerumah, namu apa boleh buat keadaan tak memungkinkan sekarang. Aku mengikuti alurnya, bersama mereka aku merasa berada dalam keluarga. Kami mengungsi ke rumah salah seorang sanak keluarga temanku itu, namun perjalanan menuju kesana ternyata tidak mudah juga, daratan yang sejatinya adalah perkebunan ibu dan areal persawahan sudah menjadi sungai, tak mungkin juga kami berenang melewati arus yang deras dan dalam. Kami menunggu jemputan speed boat di tempat pemberhentian, layaknya halte bus penjemput penumpang. Namun, speed boat itu tidak kunjung datang, sebagian warga yang juga menunggu beralih ketempat yang lain sementara kami tetap menunggu dengan sabar disana. Hingga akhirnya kutahu tempat kami menunggu bukanlah tempat yang tepat. Speed boat menjemput penumpang di tempat yang berbeda. 

Akhirnya, kami ( aku, temanku dan keluarganya) secara bergiliran diantar oleh seorang paman yang baik hati. Meski hanya menggunakan perahu yang terbuat dari sejenis kara plastik dan disana sini sudah berlobang, kami tetap diantarnya sampai tujuan. Tersebersit kengerian dihatiku, bagaimana jika perahu itu karam ditengah perjalanan, bentuknya yang sudah reot membuatku khawatir, ditambah lagi muatan yang banyak serta air yang selalu harus dikuras selama perjalanan agar perahu tidak tenggelam. Dengan pertolongan Tuhan melalui usaha paman kami semua secara bergantian diantarkannya ke seberang. 

Oh ya, sebenarnya kami tidak ingin mengungsi pada awalnya, kami sudah merasa cukup aman untuk menumpang sebentar dirumah seorang tetangga yang memiliki rumah panggung sehingga air tidak memasuki rumah. Namun, pada hari ke 2, tersebar issue bahwa debit air akan semakin meninggi, PLTA akan melepas beberapa pintu air lagi. Dan hal yang membuat kami tambah was was adalah, sebagian orang percaya dan mengatakan bahwa pihak speed boat hanya akan mengantar warga keseberang sampai sore harinya. Walaupun terdengar juga kabar bahwa debit air akan menurun jika tidak terjadi hujan nantinya. Yang namanya orang awam, mendengar desas desus itu, ciutlaj nyali dan memilih untuk mengungsi maka terjadilah keadaan diatas. 

Setelah kami mengungsi ketempat yang dirasa aman tersebut, rasanya bahagia sekali ketika kaki menginjak tanah kembali. Orang disana nyaman nyaman saja, berbeda sekali dengan kondisi kami yang rumahnya dibantaran sungai serta memiliki dataran rendah walau jaraknya tidak terlalu jauh... Hmmm... Tanah kering, tidak ada arus air yang keruh... Fuuhhh rasanya sedikit lega.

Pada pagi harinya setelah semalaman menginap disana, orang orang mengabarkan bahwa air ternyata sudah surut. Dan kami memutuskan untuk kembali kerumah, ya, rumah temanku. Ingin sekali rasanya aku langsung pulang, rindu rasa tak tertahankan, namun, nuraniku mencegahku. Banyak hal yang bisa kubantu disana sebagai ungkapan terima juga karena telah mengizinkan aku bersama mereka menjalani masa masa banjir ini bersama. Jalanan ternyata belum kering sempurna masih ada aliran air deras sebatas paha di beberapa sisi jalan. Dikanan kiri aku melihat rumah warga yang rusak akibat tak kuat menahan terjangan banjir, kulihat juga beberapa keramba ikan yang sudah terdampar di daratan. Kudengar juga kabar banyak sekali keramba ikan warga yang hanyut terbawa banjir besar. Kuharap semua bisa tabah menerimanya.

Sesampainya di rumah temanku, pandanganku terarah pada setumpuk sepeda motor yang selalu menunggu kami para tuanku. Lega dia masih bertengger disana walau dalam kondisi kotor dan rusak karena mesin dan oli motor terendam banjir. Kami bergotong royong membersihkan rumah dari sisa sisa banjir, baik itu sampah, pasir pasih basah dan merapikan dan membersihkan kembali barang barang, serta membuang barang barang yang rusak terendam banjir yang umumnya terbuat dari kayu serta tripleks. Menjelang tengah hari pekerjaan membersihkan rumah selesai. Aku katakan pada temanku dan keluarganya bahwa aku ingin pulang. Karena sepeda motorku masih harus diperbaiki aku putuskan untuk meninggalkan dirumah temanku dan memintanya untuk menghantarkan ke bengkel bersama dengan sepeda motornya. 

Aku pulang menggunakan metromini, ditengah jalan aku melihat beberapa posko pengungsian serta genangan banjir, ternyata banjir belum seutuhnya surut. Aku agak was was apakah aku bisa sampai ke rumah hari ini atau tidak? Tapi karena sudah keburu tanggung dan sudah diperjalanan kuputuskan saja untuk pulang melewati jembatan gantung, siapa tahu disana air sudah kering dan aku bisa meminta orang rumah untuk menjemput atau mengojek sampai rumah. Setelah aku melewati jembatan gantung tersebut, alangkah terkejutnya diriku... Ternyata...

Bersambung
#30DWC hari ke 10

Selasa, 23 Februari 2016

Tentang Aku dan Banjir

Dalam banjir


Cerita ini berasal dari pengalamanku sendiri, pengalaman yang membuatku berfikir tentang hal yang berbeda yang dahulunya aku anggap biasa.

Pernahkah aliran air yang deras dan dengan cepatnya mengisi ruang rumahmu sahabat? Inilah kali pertama hal tersebut menimpa diriku, keluargaku dan sebagian besar masyarakat didaerahku, tepatnya di kampar. Dulunya, aku menganggap enteng tentang musibah banjir yang melanda sebagian wilayah di Indonesi kala musim penghujan tiba. Aku pun tak pernah sekalipun membayangkan bagaimana kondisi mereka disana, harus terkepung air berhari hari lamanya, kesulitan melakukan aktivitas bahkan kesulitan untuk makan, sama sekali tak terlintas di pikiranku, sampai aku meradakannya sendiri.

Ini adalah kali pertama aku menghadapi situasi ini dan parahnya aku tak bersama keluargaku saat musibah ini terjadi, aku terkepung di rumah seorang sahabat, selapas kami pergi mengunjungi salah satu destinasi wisata dan malamnya aku memutuskan menginap dirumahnya karena hujan yang lebat dan mengizinkan aku pulang. Aku menelpon ayah, kukatakan aku akan menginap disana, ayah bilang, malam itu pihak PLTA akan melepas 5 pintu air dan menghimbau warga agar waspada. Sebelumnya memang didaerahnya kami sungai kampar juga meluap karena PLTA tak mampu mrnampung debit air yang kian menambah mengingat musim hujan yang terjadi namun, aku tetap tenang karena air tak pernah masuk rumah sejak PLTA didirikan sebelum tahun 2000 an. Makanya ketika ayah bilang himbauan tersebut, aku tenang tenang saja, ku pikir, ah itu cuma omong kosong belaka, tak mungkin banjir besar akan datang, toh selama ini debit air masih terkendali.

Setelah itu, aku dengan pulasnya dirumah teman ku. Hingga tiba tiba sekitar jam 02.30 dini hari aku terbangun karena suara kasak kusuk di luar kamar. Kami membuka jendela dan ternyata air sudah mencapai halaman rumah, lalu kami keluar ke ruang tamu dan lama, air dengan cepatnya menggenangi setiap sudut rumah. Rasanya seperti masih bermimpi namun, kutahu ini hal yang harus kuhadapi. Tanpa berfikir panjang, aku membantu teman ku dan keluarganya memindahkan barang2 ketempat yang lebih tinggi, setengah jam kemudian air sudah menggenangi rumah sebatas pinggang orang dewasa, alirannya begitu deras dan terasa dingin. Sesaat aku terpaku melihat keadaan, lalu tiba tiba terfikir keadaan keluarga dirumah, bagaimana kondisi disana sekarang, apakah kondisinya sama dengan yang kuhadapi, pikiranku melayang. Kuputuskan untuk menelpon kerumah, ayah bilang air belum memasuki rumah, dan disana kondisinya masih aman. Lalu cukup tenang, setidaknya mereka baik baik saja disana, sampai aku tahu pada siang harinya air memasuki rumahku, dan ayah, ibu dan adik-adikku mengungsi. Dan hal yang membuat ku tercengang, mereka mengungsi di salah satu gubuk yang ada di kebun kami karena disana daratannya cukup tinggi dan terjangkau air. Disana cukup aman dan nyaman walau gubuk itu kecil namun tetap merupakan pilihan baik yang bisa diambil.
Aku menjalani hari hariku ditengah banjir. Ada satu hal yang terluput dari perhatian kami ketika sedang sibuk sibuknya mengungsikan barang, yaitu sepeda motor. Air sudah meninggi ketika kami sadar bahwa motor belum diselamatkan. Dengan segera kami memindahkan sepeda motor ketempat yang lebih tinggi, namun apa mau dikata, air mencapai tempat tersebut dan merendam motor tersebut, 5 unit sepeda motor plus 1 unit sepeda motor milikku ditelan banjir. Aku bisikkan pada motorku sebelum mengungsi ke salah satu rumah warga yang lebih tinggi agar dia baik baik disana. Kugembok motorku agar dia tetap menunggu disana hingga air surut nantinya, memang agak dramatis tapi begitulah adanya.

Keadaan rumah terendam banjir, kami mengungsi, barang2 basah, tidak bisa kemana-mana, listrik nya padam serta sedikit menahan lapar adalah sekelumit hal yang harus kami hadapi saat itu, aku hanya bisa berdoa, "Tuhan semoga musibah banjir ini cepat usai, aku ingin segera pulang kerumah" begitu pintaku....
Bersambung...

Cerita ku tentang banjir belum selesai, yok ikuti kelanjutannya di post berikutnya, pantengin terus yang kawan #30DWC hari ke 9

Senin, 22 Februari 2016

diet sampah plastik yok yank

Diet sampah plastik yok yank

Dalam rangka memperingati hari sampah nasional 21 februari kemaren, kami memperingatinya dengan kampanye di car free day pekanbaru dan membuat janji mulai dari diri sendiri dan memviruskannya kepada orang lain untuk menghemat penggunaan sampah khususnya sampah plastik, memilah sampah sesuai bahannya serta menempatkannya pada tempatnya masing masing. Dalam hal ini, mungkin lebih baik untuk tidak menggunakan kata "membuang" sampah pada tempatnya. Karena kata ini akan menimbulkan makna ganda dan sering disalah artikan sebagai membuang sampah pada tempatnya tersebut secara serampangan. Bisa di tempat dia makan, di jalanan, kebun, halaman dan sebagainya, sebuah perilaku yang sangat tidak dianjurkan, bukan? Maklum banyak sekali diantara kita yang sering memplesetkan kata.

Kembali lagi ke topik utama tentang tema "diet plastik". Menurut saya pribadi hal ini sangat penting, bukankah kebersihan adalah pangkal kesehatan, separoh dari iman dan lain sebagainya, slogan slogan yang umum sekali kita dengar. Namun belum dapat dikerjakan secara maksimal dan selayaknya.

Katika saya pergi kepasar hari ini, saya memperhatikan sekeliling, tentang riuhnya pasar, hiruk pikuknya transaksi jual beli, dan sebagainya, tak luput juga saya memperhatikan banyak sekali kantong kantong plastik atau yang lebih dikenal " kresek" berserakan disini, mulai dari yang warnanya hitam, hijau, putih, kuning, macam pelangi saja, cuma pelangi dalam bentuk sampah. Saya pun mau tak mau menggunakan karena tak membawa kantong ataupun tas berbahan kain besar dari rumah, sempat saya berbincang pada seorang pedagang, " pak, sebaiknya kita tidak boleh menggunakan banyak plastik, karena dapat mencemari lingkungan" lalu pedagang itu menjawab: plastik kan memang kebutuhan kami sebagai pedagang. Lalu saya terdiam, mungkin kita harus memberikan pengertian lebih mengena dengan memulai dari diri sendiri.

Ngomong-ngomong dengan diet plastik, mungkin ini adalah hal yang cukup sulit, karena kita sudah terbiasa dan membiasakan diri menghinakannya. Pergi berbelanja ke kedai beli sebungkus mie instan, lalu kita dikasih plastik atau penjual memberi kita percuma dan kalau sang penjual tidak memberi plastik atau lupa kita malah minta "pak kantong plastiknya mana" padahal kita bisa memegangnya atau memasukkan dalam tas atau jok kenderaan. Sebuah contoh sederhana yang sering sekali kita jumpai. namun tak mustahil merubah kebiasaan bila kita menyadari akan dampak dan kelangsungan lingkungan hidup kedepannya. Dengan Memperingati hari sampah nasional bukan berarti hanya menghargai lingkungan hanya sehari, ber uporia dengan tindakan sekejap, namun, hal tersebut juga harus dilandasi dengan hati, memulai dari hari ini, besok, lusa dan seterusnya. Kalau tidak kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi, yoook bareng-bareng, bersama kita bisa, iya... Kita...

Diet sampah plastik yuk yank #30DWC hari ke 8 

diet sampah plastik yok yank

Diet sampah plastik yok yank

Dalam rangka memperingati hari sampah nasional 21 februari kemaren, kami memperingatinya dengan kampanye di car free day pekanbaru dan membuat janji mulai dari diri sendiri dan memviruskannya kepada orang lain untuk menghemat penggunaan sampah khususnya sampah plastik, memilah sampah sesuai bahannya serta menempatkannya pada tempatnya masing masing. Dalam hal ini, mungkin lebih baik untuk tidak menggunakan kata "membuang" sampah pada tempatnya. Karena kata ini akan menimbulkan makna ganda dan sering disalah artikan sebagai membuang sampah pada tempatnya tersebut secara serampangan. Bisa di tempat dia makan, di jalanan, kebun, halaman dan sebagainya, sebuah perilaku yang sangat tidak dianjurkan, bukan? Maklum banyak sekali diantara kita yang sering memplesetkan kata.

Kembali lagi ke topik utama tentang tema "diet plastik". Menurut saya pribadi hal ini sangat penting, bukankah kebersihan adalah pangkal kesehatan, separoh dari iman dan lain sebagainya, slogan slogan yang umum sekali kita dengar. Namun belum dapat dikerjakan secara maksimal dan selayaknya.

Katika saya pergi kepasar hari ini, saya memperhatikan sekeliling, tentang riuhnya pasar, hiruk pikuknya transaksi jual beli, dan sebagainya, tak luput juga saya memperhatikan banyak sekali kantong kantong plastik atau yang lebih dikenal " kresek" berserakan disini, mulai dari yang warnanya hitam, hijau, putih, kuning, macam pelangi saja, cuma pelangi dalam bentuk sampah. Saya pun mau tak mau menggunakan karena tak membawa kantong ataupun tas berbahan kain besar dari rumah, sempat saya berbincang pada seorang pedagang, " pak, sebaiknya kita tidak boleh menggunakan banyak plastik, karena dapat mencemari lingkungan" lalu pedagang itu menjawab: plastik kan memang kebutuhan kami sebagai pedagang. Lalu saya terdiam, mungkin kita harus memberikan pengertian lebih mengena dengan memulai dari diri sendiri.

Ngomong-ngomong dengan diet plastik, mungkin ini adalah hal yang cukup sulit, karena kita sudah terbiasa dan membiasakan diri menghinakannya. Pergi berbelanja ke kedai beli sebungkus mie instan, lalu kita dikasih plastik atau penjual memberi kita percuma dan kalau sang penjual tidak memberi plastik atau lupa kita malah minta "pak kantong plastiknya mana" padahal kita bisa memegangnya atau memasukkan dalam tas atau jok kenderaan. Sebuah contoh sederhana yang sering sekali kita jumpai. namun tak mustahil merubah kebiasaan bila kita menyadari akan dampak dan kelangsungan lingkungan hidup kedepannya. Dengan Memperingati hari sampah nasional bukan berarti hanya menghargai lingkungan hanya sehari, ber uporia dengan tindakan sekejap, namun, hal tersebut juga harus dilandasi dengan hati, memulai dari hari ini, besok, lusa dan seterusnya. Kalau tidak kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi, yoook bareng-bareng, bersama kita bisa, iya... Kita...

Diet sampah plastik yuk yank #30DWC hari ke 8