Selasa, 15 Maret 2016
Ketenangan pikiran tidak akan tercapai melainkan dengan menerima kemungkinan yang terburuk
Seringkali sahabat, kita terbelenggu oleh jalan pikiran kita sendiri, kita sibuk mengerjakan ini itu, pergi kesini dan kesitu lalu akhirnya terpuruk pada pikiran yang tak menentu. Tak ada fokus. Gamblang terasa serta hampa.
Jika kita sibuk untuk melakukan segala hal tanpa tujuan yang jelas, kapankah kita mulai mencapai ketenangan dan kebaikan diri?
Kawan, dalam hidup ini, kita tidak tahu bagaimana jalan nasib berbicara namun kita dapat mengontrolnya. Stephan J.covey mengemukakan tentang PRINSIP 90/10.
Bagaimana prinsip 90/10 itu ?
- Sepuluh persen dari hidup kita terjadi karena apa yang langsung kita alami.
- Sembilan puluh persen dari hidup kita ditentukan dari cara kita bereaksi.
Apa maksudnya ?
Anda tidak dapat mengendalikan 10% dari kondisi yang terjadi pada diri anda.
Contohnya :
Anda tidak dapat menghindar dari kemacetan. Pesawat terlambat datang dan hal ini akan mengacaukan seluruh schedule yang telah disusun. Kemacetan telah menghambat seluruh rencana Anda.
Anda tidak dapat mengontrol kondisi 10% ini.
Tetapi beda dengan 90% lainnya. Anda dapat mengontrol yang 90% ini.
Bagaimana caranya? Dari cara reaksi Anda !!
Anda tidak dapat mengontrol lampu merah, tetapi Anda dapat mengontrol reaksi Anda.
Seperti itu pula jalan hidup bekerja, kita mungkin akan menolak segala hal hal buruk yang mungkin akan terjadi. Kita mengatakan seolah olah hal tersebut tidak layak menimpa kita. Tentu semua orang menginginkan segala macam kebaikan, kebahagian, kekayaan mengarah pada dirinya. Namun, ketika hal yang sebaliknya terjadi? Apakah abda akan berlarut larut mengutuki diri lalu berpaling? Atau mulai mencoba untuk menerima segala keadaan dan berusaha mencari jalan terbaik ke kondisi yang anda harapkan.
Ketenangan pikiran tidak akan tercapai melainkan dengan menerima kemungkinan yang terburuk. Tepat rasanya ketika kita ditimpa suatu musibah, hal hal yang tidak sesuai harapan pikiran kita mudah terpengaruh, terbawa emosi lalu bahkan naik pitam. Hal ini ujung ujung tentu memicu permasalahan baru muncul dan membuat anda semakin gelisah. Kondisi yang tidak berbeda juga sering kali terjadi bila kita hanya berharap pada hal baik, baik, baik dan selalu baik. Lupakah kita bahwa setelah siang akan ada malam? Setelah musim hujan akan ada kalanya kekeringan? Bahwa kebaikan dan keburukan adalah peket untuk kefanaan?
Sadarilah kawan, kapanpun dan dimanapun, kita akan selalu dihadapkan pada pilihan. Tenangkan jiwamu, tenangkan fikiranmu, bersihkan hatimu, jalani kehidupan dengan bersandar kepadaNya, mohon petunjukNya dan ingatlah. Kemungkinan kemungkinan adalah proses yang harus dirasakan.
#30DWC hari ke 28
ketenangan pikiran tidak akan tercapai melainkan dengan menerima kemungkinan yang terburuk
Seringkali sahabat, kita terbelenggu oleh jalan pikiran kita sendiri, kita sibuk mengerjakan ini itu, pergi kesini dan kesitu lalu akhirnya terpuruk pada pikiran yang tak menentu. Tak ada fokus. Gamblang terasa serta hampa.
Jika kita sibuk untuk melakukan segala hal tanpa tujuan yang jelas, kapankah kita mulai mencapai ketenangan dan kebaikan diri?
Kawan, dalam hidup ini, kita tidak tahu bagaimana jalan nasib berbicara namun kita dapat mengontrolnya. Stephan J.covey mengemukakan tentang PRINSIP 90/10.
Bagaimana prinsip 90/10 itu ?
- Sepuluh persen dari hidup kita terjadi karena apa yang langsung kita alami.
- Sembilan puluh persen dari hidup kita ditentukan dari cara kita bereaksi.
Apa maksudnya ?
Anda tidak dapat mengendalikan 10% dari kondisi yang terjadi pada diri anda.
Contohnya :
Anda tidak dapat menghindar dari kemacetan. Pesawat terlambat datang dan hal ini akan mengacaukan seluruh schedule yang telah disusun. Kemacetan telah menghambat seluruh rencana Anda.
Anda tidak dapat mengontrol kondisi 10% ini.
Tetapi beda dengan 90% lainnya. Anda dapat mengontrol yang 90% ini.
Bagaimana caranya? Dari cara reaksi Anda !!
Anda tidak dapat mengontrol lampu merah, tetapi Anda dapat mengontrol reaksi Anda.
Seperti itu pula jalan hidup bekerja, kita mungkin akan menolak segala hal hal buruk yang mungkin akan terjadi. Kita mengatakan seolah olah hal tersebut tidak layak menimpa kita. Tentu semua orang menginginkan segala macam kebaikan, kebahagian, kekayaan mengarah pada dirinya. Namun, ketika hal yang sebaliknya terjadi? Apakah abda akan berlarut larut mengutuki diri lalu berpaling? Atau mulai mencoba untuk menerima segala keadaan dan berusaha mencari jalan terbaik ke kondisi yang anda harapkan.
Ketenangan pikiran tidak akan tercapai melainkan dengan menerima kemungkinan yang terburuk. Tepat rasanya ketika kita ditimpa suatu musibah, hal hal yang tidak sesuai harapan pikiran kita mudah terpengaruh, terbawa emosi lalu bahkan naik pitam. Hal ini ujung ujung tentu memicu permasalahan baru muncul dan membuat anda semakin gelisah. Kondisi yang tidak berbeda juga sering kali terjadi bila kita hanya berharap pada hal baik, baik, baik dan selalu baik. Lupakah kita bahwa setelah siang akan ada malam? Setelah musim hujan akan ada kalanya kekeringan? Bahwa kebaikan dan keburukan adalah peket untuk kefanaan?
Sadarilah kawan, kapanpun dan dimanapun, kita akan selalu dihadapkan pada pilihan. Tenangkan jiwamu, tenangkan fikiranmu, bersihkan hatimu, jalani kehidupan dengan bersandar kepadaNya, mohon petunjukNya dan ingatlah. Kemungkinan kemungkinan adalah proses yang harus dirasakan.
#30DWC hari ke 28
Mau Jadi Orang Besar? Mana Tanggungan Anda
Siang hari ini saya dan beberapa teman berkesempatan menghadiri sebuah seminar di gedung Bkkbn provinsi Riau, yang dibawakan oleh Prof. Abdul Basit, M.Sc. seorang motivator ulung yang telah malang melintang dan telah membawakan motivasi diberbagai daerah di Indonesia. Meskipun agak terlambat mengikuti jalannya seminar, saya dapat mengambil beberapa point penting dari ilmu yan beliau sampaikan siang ini, yakni tentang:
"Untuk menjadi orang besar selalu disertai dengan beban dan tanggung jawab yang besar juga"
Sahabatku, intisari dari kalimat diatas ialah bahwa, setiap orang yang telah mencapai sebutlah dengan istilah "aktualisasi diri" adalah orang orang yang tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan biologis, fisiologis semata namun juga pada tingkat yang lebih hakiki yakni tingkat aktualisasi, sebagaimana yang telah diungkap maslow dalam teori need nya.
Atau dengan kata lain Aktualisasi diri mendorong manusia sampai kepada pengembangan yang optimal dan menghasilkan ciri unik manusia seperti kreativitas, inovasi, dan lain-lain. Adapun hirarki kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut :
1.Kebutuhan fisiologis atau dasar
2.Kebutuhan akan rasa aman
3.Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi
4.Kebutuhan untuk dihargai
5.Kebutuhan untuk aktualisasi diri
Kembali ke inti tadi, ketika kita ditanya sebuah pertanyaan sederhana yang berbunyi:
"Anda Mau jadi orang besar atau orang kecil?" maka dengan lantang kita menjawab: "saya mau jadi orang BESAR" Lalu ketika dilontarkan lagi pertanyaan selanjutnya, Kalau mau jadi orang besar, mana beban anda? Lalu, semerta merta kita terdiam seribu bahasa. Lalu sesungguhnya, apa yang dimaksud dengan beban disini? Ayo kita kupas pada alinea berikutnya.
Beban yang dimaksud dalam konteks diatas adalah tanggungan. Kita semua tentu punya tanggungan. Coba ibaratkanlah kita adalah orang tua yang mempunyai anak anak yang harus dibiayai kehidupannya hingga dia mandiri. Pertanyaan klasiknya adalah, anak adalah tanggungan orang tua, dan anak otomatis menjadi "beban" dari orang tua sendiri. Benar adanya hal tersebut, namun, untuk menjadi orang besar tentu butuh beban yang besar. Sudahkah anda faham maksud saya diatas? Jika belum saya akan memberikan analogi lainnya,
" Ade Rai adalah salah seorang binaragawan yang mempunyai bentuk otot yang memukau. Bagaimana ade rai dapat memiliki otot otot yang demikian tangguhnya? Jawabannya adalah karena latihan yang konsisten. Sehinggapun apabila bentuk tubuh yang diingin ade rai telah terbentuk sempurna. Ia tetap harus menjaga massa ototnya dengan latihan yang rutin dan pola makan yang teratur".
Sahabat, dari cerita diatas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa: untuk menjadi orang besar, juga diperlukan beban yang besar. Hidup yang cuma sekali, sungguh merugi untuk menyia-nyiakan. Jangan jadi umumnya namun jadilah yang luar biasa yang menginspirasi.
Pak prof. Menceritakan tentang beberapa orang yang mendarma baktikan hidupnya untuk memberikan banyak manfaat kepada sesama. Mereka terdorong hatinya untuk membagikan kebahagian kepada anak anak yatim dan piatu yang sangat memerlukan kasih sayang dan perlindungan. Anak anak yang mengantarkan orang tua angkatnya ke posisi yang sangat mulia karena mampu menjadi Seorang Yang BESAR dengan beban yang juga besar. Hati nurani mereka tergerak untuk memberikan mereka tempat berlindung dan menjadikannya sumber kebaikan. Jika orang tua menafkahi anak mereka yang memang menjadi beban tanggung jawab mereka, maka hal itu adalah wajib hukumnya. Sementara orang orang yang mengabdikan hidupnya pada sesama adalah orang orang yang menjadi besar dengan tanggungan besar. Orang orang ini mengasuh puluhan hingga ribuan anak yatim, piatu dan anak anak terlantar untuk dirawat sebagaimana anak mereka sendiri. Sungguh mulia hati mereka, dan Tuhan lah yang mampu membalasnya.
Mari sama sama kita benahi diri, menjadikan hidup kita lebih bermakna dan hakiki dengan senantiasa menolong sesama.
So, anda mau jadi orang besar? Mana tanggungan anda...
#30DWC hari ke 30
Senin, 14 Maret 2016
karena syukur itu lebih nikmat dari nikmat itu sendiri
Assalamualaikum wr.wb
Apa kabar sahabat, semoga selalu diberi limpahan rakhmat dan karunia dari Allah SWT, aamiin
Karena syukur itu lebih nikmat dari nikmat itu sendiri
Bersyukur adalah jalan terbaik dan terpuji yang dapat kita tempuh sebagai hamba yang taat dan ummat yang beragama. Syukur menandakan rasa berterima kasih atas ketetapan Allah kepada hambanya. Syukur menguatkan fitrah manusia kepada penciptaNya.
Manusia yang diberi amanah sebagai pemimpin dimuka bumi, dilimpahiNya dengan nikmat dan karunia yang tiada banding hitunganNya. Sejak manusia masih belum dicipkan, hingga ditiupkan ruh kedalam jasad yang dikandungan ibunya, lalu dia lahir kedunia, membuka kedua matanya dan mulai menangis tanda bermulanya kehidupannya sebagai seorang insan manusia , sebaik baik ciptaanNya.
Nikmat mengalir bagaikan mata air yang tak pernah kering, bagaikan ronanya matahari sepanjang hari dan bagaikan pepohonan yang terus bertumbuh. Begitu luas nikmat yang telah dibentangkannya kepada seluruh makhlukNya. Kita mereguk kesejukan dari belas kasihNya.
Analogikanlah begini, Ketika seorang teman datang memberi sebungkus hadiah. Dengan muka yang dihiasi senyum kita haturkan terima kasih padanya. Ketika yang lain datang membawakan semangkuk sup dipagi hari, alangkah berbinarnya muka kita. Namun, ketika Allah dengan segenap kasih mencurahkan nikmat yang tidak terhitung banyak dan nilainya setiap detik hidupmu. Alangkah tidak pantasnya kita mengabaikannya dengan dunia dan lupa pada syukur kehadirat sang pencipta.
Syukur bukan hanya berarti kita panjatkan ketika semuanya secara sempurna kita terima. Syukur itu tidak terbatas pada apapun, karena kasihNya tidak terhalang sedikitpun. Setiap waktu kita merasai nikmat yang sesungguhnya, kesyukuran akan kenikmatan yang tiada bandingnya.
Apapun yang diberikan Tuhan adalah yang terbaik bagi hambanya, tiada takaran yang sedikitpun berat sebelah, semua dalam takaran keadilan. Nikmat itu jauh lebih nikmat dengan adanya rasa syukur. Walau pada satu hal kita dikurangkannya. Pada hal lain kita dilebihkannya. Timbangan yang selalu mengarah pada kebenaran. Rasa syukur akan mengantarkan kita kederajat yang lebih mulia. Dalam firmannya jelas jelas Allah telah mengatakan:
" barang siapa yang bersyukur akan nikmatku maka akan aku tambah, dan siapa yang ingkar, ingatlah azabku sangatnya pedih"
Karena syukur itu lebih nikmat dari nikmat itu sendiri
#30DWC hari ke 29
Apa kabar sahabat, semoga selalu diberi limpahan rakhmat dan karunia dari Allah SWT, aamiin
Karena syukur itu lebih nikmat dari nikmat itu sendiri
Bersyukur adalah jalan terbaik dan terpuji yang dapat kita tempuh sebagai hamba yang taat dan ummat yang beragama. Syukur menandakan rasa berterima kasih atas ketetapan Allah kepada hambanya. Syukur menguatkan fitrah manusia kepada penciptaNya.
Manusia yang diberi amanah sebagai pemimpin dimuka bumi, dilimpahiNya dengan nikmat dan karunia yang tiada banding hitunganNya. Sejak manusia masih belum dicipkan, hingga ditiupkan ruh kedalam jasad yang dikandungan ibunya, lalu dia lahir kedunia, membuka kedua matanya dan mulai menangis tanda bermulanya kehidupannya sebagai seorang insan manusia , sebaik baik ciptaanNya.
Nikmat mengalir bagaikan mata air yang tak pernah kering, bagaikan ronanya matahari sepanjang hari dan bagaikan pepohonan yang terus bertumbuh. Begitu luas nikmat yang telah dibentangkannya kepada seluruh makhlukNya. Kita mereguk kesejukan dari belas kasihNya.
Analogikanlah begini, Ketika seorang teman datang memberi sebungkus hadiah. Dengan muka yang dihiasi senyum kita haturkan terima kasih padanya. Ketika yang lain datang membawakan semangkuk sup dipagi hari, alangkah berbinarnya muka kita. Namun, ketika Allah dengan segenap kasih mencurahkan nikmat yang tidak terhitung banyak dan nilainya setiap detik hidupmu. Alangkah tidak pantasnya kita mengabaikannya dengan dunia dan lupa pada syukur kehadirat sang pencipta.
Syukur bukan hanya berarti kita panjatkan ketika semuanya secara sempurna kita terima. Syukur itu tidak terbatas pada apapun, karena kasihNya tidak terhalang sedikitpun. Setiap waktu kita merasai nikmat yang sesungguhnya, kesyukuran akan kenikmatan yang tiada bandingnya.
Apapun yang diberikan Tuhan adalah yang terbaik bagi hambanya, tiada takaran yang sedikitpun berat sebelah, semua dalam takaran keadilan. Nikmat itu jauh lebih nikmat dengan adanya rasa syukur. Walau pada satu hal kita dikurangkannya. Pada hal lain kita dilebihkannya. Timbangan yang selalu mengarah pada kebenaran. Rasa syukur akan mengantarkan kita kederajat yang lebih mulia. Dalam firmannya jelas jelas Allah telah mengatakan:
" barang siapa yang bersyukur akan nikmatku maka akan aku tambah, dan siapa yang ingkar, ingatlah azabku sangatnya pedih"
Karena syukur itu lebih nikmat dari nikmat itu sendiri
#30DWC hari ke 29
Sabtu, 12 Maret 2016
perjuangan meraih mimpi
Assalamualaikum, wr.wb
Apa kabar sahabat semua? Semoga selalu dilimpahi kesehatan oleh Sang Maha Kuasa
Sahabat, jika kita berbicara tentang mimpi, begitu banyak hal yang bisa kita ceritakan. Dimulai dari impian impian sederhana sampai impian impian yang besar yang sudah lama kita dambakan. Walaupun sesungguhnya besar kecilnya suatu impian tidak bisa kita ukur dari konten belaka, semuanya kembali kepada sang pemilik impian. Yaitu ANDA!
Dalam rentang kehidupan yang telah kita jalani, tentu banyak hal yang sudah kita lalui. Mulai ketika kecil kita tertarik pada sesuatu dan secara lantang kita mendeklamasikan didepan kelas bahwa SAYA MAU JADI DOKTER bu guru. Semangat begitu meletup letup keluar dari bibir mungil kita. Dan mungkin sampai sekarang kita masih memiliki mimpi itu maka wujudkanlah mimpi anda.
Sahabat, sejatinya impian adalah hal yang mutlak harus diperjuangkan. Sehingga dia tidak hanya menjadi pemanis bibir dan angan angan belaka. Jika kita memutar memori dari sejak kecil hingga kini, kesimpulan apa yang bisa kita tarik tentang makna impian? Kita mungkin bisa memberikan berbagai opsi jawaban atau mungkin alasan kenapa semuanya terasa lebih sulit dari yang dibayangkan. Jauh berbeda dari angan diwaktu belia. Serta apa masalah kita hingga belum mampu mewujudkannya? Cobalah renungkan wahai sahabat
Kita tentu sering melihat ataupun mendengar orang orang yang mampu meraih apa yang kebanyakan orang inginkan. Kita akan berdecak kagun terhadap mereka, wah hebatnya mereka bisa kesini, bisa kesitu, punya ini, punya itu, sudah ini, sudah itu dan lain sebagainya, Namun, cobalah kita melihat dari sisi yang berbeda, melihat tapak tilas mereka, serta menjadi amat penting bagi kita memahami lika liku yang telah mereka hadapi untuk dapat mencapai keberhasilan sekarang. Adalah tidak baik ketika kita hanya melihat jejak keberhasilan mereka setelah sampai dipuncak tanpa menghiraukan tapak demi tapak yang telah mereka tijakkan. Baik bila kita sering membaca,mengerti, memahami, mencoba, kalau gagal mencoba lagi, jalin komunikasi, persiapkan diri, hargainya potensi diri serta yang utama selalu menyeimbangkan usaha dan doa. Karena mungkin hal tersebutlah yang mengantarkan mereka ke jenjang keberhasilan begitu pula dengan kita.
Setiap kali kita menetapkan impian namun diselingi dengan usaha yang minim maka dapat dipastikan minim pula hasilnya dan pun sebaliknya jika usaha yang kita lakukan sudah semaksimalkan mungkin maka hasil tak akan pernah membohongi proses.
Jika kita tanya satu persatu orang, pasti mereka semua punya mimpi namun tak semua orang mau dan mampu memperjuangkan impiannya.
"Berakit rakit kehulu"
"Berenang renang ketepian"
"Bersakit sakit dahulu"
"Bersenang senang kemudian"
Manisnya hasil didahului oleh pahitnya perjuangan.
Mustahil ketika kita ongkang-ongkang kaki, dari loteng turun segepok uang. Semuanya butuh proses dan proses itu adalah perjuangan.
Ketika saya diberi kesempatan untuk bisa mengikuti kegiatan KPN Sail Tomini 2015, salah satu progran Dispora RI yang berfokus pada sektor kebaharian dimana pesertanya akan mengikuti kegiatan pelayaran dengan KRI untuk menempuh rute keliling nusantara selama sebulan dan semuanya gratissss. saya awalnya tak menyangka saya akan terpilih menjadi salah satu peserta, namun Tuhan maha mendengar setiap doa doa kita, Dia maha pemurah pada setiap hambanya, dan saat kita mau ada saja jalan yang ditunjukiNya untuk kita. Manisnya bagai madu kawan, saya masih ingat betul ketika menjalani proses seleksi, saya harus kalang kabut mempersiapkan materi presentasi proposal, manjadi tutor diri sendiri untuk menampilkan seni dan budaya, mengenderai sepeda motor gelap gelapan karena lampu depan motor yang telah rusak serta melalui jalan yang salah untuk sampai ke tempat tujuan sehingga harus tanya sana sini, searching ini dan itu, pergi pagi pulang malam laly harus begadang. Namun, dari perjuangan itu saya belajar bahwa, tanpa perjuangan itu, mungkin Tuhan belum yakin bahwa saya berhak untuk kesempatan itu, semacam ujian agar Sang Maha Agung yakin bahwa kita layak untuk itu.
Diluar sana, begitu banyak orang orang yang telah berjaya, bahkan diusia muda. Marilah kita mencoba belajar dari mereka, banyak membaca, tanya orang orang yang sudah berhasil, kuatkan niat, barengi usaha dan doa yang serta yakin bahwa kita pasti bisa.
Man Jadda Wajada
(Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapat)
Wassalamualaikum, wr wb .
#30DWC hari ke 27
Apa kabar sahabat semua? Semoga selalu dilimpahi kesehatan oleh Sang Maha Kuasa
Sahabat, jika kita berbicara tentang mimpi, begitu banyak hal yang bisa kita ceritakan. Dimulai dari impian impian sederhana sampai impian impian yang besar yang sudah lama kita dambakan. Walaupun sesungguhnya besar kecilnya suatu impian tidak bisa kita ukur dari konten belaka, semuanya kembali kepada sang pemilik impian. Yaitu ANDA!
Dalam rentang kehidupan yang telah kita jalani, tentu banyak hal yang sudah kita lalui. Mulai ketika kecil kita tertarik pada sesuatu dan secara lantang kita mendeklamasikan didepan kelas bahwa SAYA MAU JADI DOKTER bu guru. Semangat begitu meletup letup keluar dari bibir mungil kita. Dan mungkin sampai sekarang kita masih memiliki mimpi itu maka wujudkanlah mimpi anda.
Sahabat, sejatinya impian adalah hal yang mutlak harus diperjuangkan. Sehingga dia tidak hanya menjadi pemanis bibir dan angan angan belaka. Jika kita memutar memori dari sejak kecil hingga kini, kesimpulan apa yang bisa kita tarik tentang makna impian? Kita mungkin bisa memberikan berbagai opsi jawaban atau mungkin alasan kenapa semuanya terasa lebih sulit dari yang dibayangkan. Jauh berbeda dari angan diwaktu belia. Serta apa masalah kita hingga belum mampu mewujudkannya? Cobalah renungkan wahai sahabat
Kita tentu sering melihat ataupun mendengar orang orang yang mampu meraih apa yang kebanyakan orang inginkan. Kita akan berdecak kagun terhadap mereka, wah hebatnya mereka bisa kesini, bisa kesitu, punya ini, punya itu, sudah ini, sudah itu dan lain sebagainya, Namun, cobalah kita melihat dari sisi yang berbeda, melihat tapak tilas mereka, serta menjadi amat penting bagi kita memahami lika liku yang telah mereka hadapi untuk dapat mencapai keberhasilan sekarang. Adalah tidak baik ketika kita hanya melihat jejak keberhasilan mereka setelah sampai dipuncak tanpa menghiraukan tapak demi tapak yang telah mereka tijakkan. Baik bila kita sering membaca,mengerti, memahami, mencoba, kalau gagal mencoba lagi, jalin komunikasi, persiapkan diri, hargainya potensi diri serta yang utama selalu menyeimbangkan usaha dan doa. Karena mungkin hal tersebutlah yang mengantarkan mereka ke jenjang keberhasilan begitu pula dengan kita.
Setiap kali kita menetapkan impian namun diselingi dengan usaha yang minim maka dapat dipastikan minim pula hasilnya dan pun sebaliknya jika usaha yang kita lakukan sudah semaksimalkan mungkin maka hasil tak akan pernah membohongi proses.
Jika kita tanya satu persatu orang, pasti mereka semua punya mimpi namun tak semua orang mau dan mampu memperjuangkan impiannya.
"Berakit rakit kehulu"
"Berenang renang ketepian"
"Bersakit sakit dahulu"
"Bersenang senang kemudian"
Manisnya hasil didahului oleh pahitnya perjuangan.
Mustahil ketika kita ongkang-ongkang kaki, dari loteng turun segepok uang. Semuanya butuh proses dan proses itu adalah perjuangan.
Ketika saya diberi kesempatan untuk bisa mengikuti kegiatan KPN Sail Tomini 2015, salah satu progran Dispora RI yang berfokus pada sektor kebaharian dimana pesertanya akan mengikuti kegiatan pelayaran dengan KRI untuk menempuh rute keliling nusantara selama sebulan dan semuanya gratissss. saya awalnya tak menyangka saya akan terpilih menjadi salah satu peserta, namun Tuhan maha mendengar setiap doa doa kita, Dia maha pemurah pada setiap hambanya, dan saat kita mau ada saja jalan yang ditunjukiNya untuk kita. Manisnya bagai madu kawan, saya masih ingat betul ketika menjalani proses seleksi, saya harus kalang kabut mempersiapkan materi presentasi proposal, manjadi tutor diri sendiri untuk menampilkan seni dan budaya, mengenderai sepeda motor gelap gelapan karena lampu depan motor yang telah rusak serta melalui jalan yang salah untuk sampai ke tempat tujuan sehingga harus tanya sana sini, searching ini dan itu, pergi pagi pulang malam laly harus begadang. Namun, dari perjuangan itu saya belajar bahwa, tanpa perjuangan itu, mungkin Tuhan belum yakin bahwa saya berhak untuk kesempatan itu, semacam ujian agar Sang Maha Agung yakin bahwa kita layak untuk itu.
Diluar sana, begitu banyak orang orang yang telah berjaya, bahkan diusia muda. Marilah kita mencoba belajar dari mereka, banyak membaca, tanya orang orang yang sudah berhasil, kuatkan niat, barengi usaha dan doa yang serta yakin bahwa kita pasti bisa.
Man Jadda Wajada
(Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapat)
Wassalamualaikum, wr wb .
#30DWC hari ke 27
Jumat, 11 Maret 2016
Bunuh Rasa Malasmu
Saat malas melanda
Selamat berkarya kawan
Suatu waktu, tak dipungkiri rasa malas itu melanda. Ketika malas melanda, apa yang biasanya kita lakukan? Tak lain tak bukan adalah menyendalikannya. Rasa malas tercipta dari kebiasaan. Layaknya parasit, ketika semakin dibiarkan dia akan semakin menguasai inangnya. Bahkan ketika rasa malas dibiarkan, dia akan membuat inangnya sulit bergerak untuk membuat kebaikan, walaupun hanya aktivitas sederhana sekalipun. Contohnya, ketika parasit malas ini menempel, orang akan ogah ogahan sekedar untuk mandi, akan malas bergerak walau untuk mengambil air minum. Bahkan yang lebih parah, malas beranjak dari tempat tidur walaupun ditekan rasa ingin buang hajat. Rasa itu di press sampai benar benar tak tertahankan.
Besar niar pengaruh dari wabah yang satu ini. Kepada saya menyebutnya dengan wabah? Karena sejenis penyakit yang tak kasat mata ini hampir dengan mudah sekali menjangkiti orang orang yang terlalu awam dan memiliki kepedulian rendah bahkan untuk keperluan diri sendiri.
Kita dapat melihat contoh fakta dilingkungan kita, banyak sekali orang orang yang menghabiskan waktu pagi dengan nongkrong di warung kopi, waktu siang, juga nongkrong di warung kopi dan malam masih saja nongkrong di warung kopi. Padahal banyak hal hal yang lebih berfaedah dilakukan. Seperti, membaca buku, atau kalau tak suka, bisa mengisi waktu luang dengan memperbaiki kandang ayam, mencabut rumbut halaman, menyapu sampah dedaunan kering, menyiram tanaman di kebun, menikmati cahaya matahari sore atau mungkin mencoba hal hal baru yang juga berfaedah.
Kawan, rasa malas memang sangat sulit dihilangkan bila sudah mengakar. Sulit untuk dicabut, namun tak pernah ada kata terlambat. Kita bisa mengubah kebiasaan malas kita dengan cara "MEMAKSA" ya, paksakan diri untuk berubah. Kata memaksa disini bukan pula berarti tindak kekerasan. Maksudnya, kita menyadari banyak hal yang bermamfaat yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan kwalitas hidup kita. Kalau biasanya di hari libur kita malas bangun pagi, mulai sekarang kita biasakan bangun pagi. Gunakan waktu libur untuk sejenak berolahraga ataupun relaksasi untuk merilekskan otot otot setelah enam hari sebelumnya diperas. Kalau biasanya kita anti mandi pagi disaat tanggal merah. Usahakan mulai memperbaiki diri, karena dengan tubuh yang fresh, otakpun akan merespons lebih baik.
Malas memang alami terjadi. Namun, kita melihat banyak orang orang diluar sana yang mampu membuang jauh jauh rasa malas dan menggantinya dengan semangat tiada mati. Bukan berarti juga mereka tidak pernah merasa lelah. Namun, mereka punya prinsip dan prinsip itu selalu mereka jaga. Kelak saat mereka sudah berjaya segala rasa lelah, frustasi, letih yang selama ini dihadapinya telah terganti dengan hasil yang memuaskan hati.
Kawan, Malas bisa membuat potensimu mati. Bunuh rasa malasmu!
Ayo bergerak....
#30DWC hari ke 26
Selamat berkarya kawan
Suatu waktu, tak dipungkiri rasa malas itu melanda. Ketika malas melanda, apa yang biasanya kita lakukan? Tak lain tak bukan adalah menyendalikannya. Rasa malas tercipta dari kebiasaan. Layaknya parasit, ketika semakin dibiarkan dia akan semakin menguasai inangnya. Bahkan ketika rasa malas dibiarkan, dia akan membuat inangnya sulit bergerak untuk membuat kebaikan, walaupun hanya aktivitas sederhana sekalipun. Contohnya, ketika parasit malas ini menempel, orang akan ogah ogahan sekedar untuk mandi, akan malas bergerak walau untuk mengambil air minum. Bahkan yang lebih parah, malas beranjak dari tempat tidur walaupun ditekan rasa ingin buang hajat. Rasa itu di press sampai benar benar tak tertahankan.
Besar niar pengaruh dari wabah yang satu ini. Kepada saya menyebutnya dengan wabah? Karena sejenis penyakit yang tak kasat mata ini hampir dengan mudah sekali menjangkiti orang orang yang terlalu awam dan memiliki kepedulian rendah bahkan untuk keperluan diri sendiri.
Kita dapat melihat contoh fakta dilingkungan kita, banyak sekali orang orang yang menghabiskan waktu pagi dengan nongkrong di warung kopi, waktu siang, juga nongkrong di warung kopi dan malam masih saja nongkrong di warung kopi. Padahal banyak hal hal yang lebih berfaedah dilakukan. Seperti, membaca buku, atau kalau tak suka, bisa mengisi waktu luang dengan memperbaiki kandang ayam, mencabut rumbut halaman, menyapu sampah dedaunan kering, menyiram tanaman di kebun, menikmati cahaya matahari sore atau mungkin mencoba hal hal baru yang juga berfaedah.
Kawan, rasa malas memang sangat sulit dihilangkan bila sudah mengakar. Sulit untuk dicabut, namun tak pernah ada kata terlambat. Kita bisa mengubah kebiasaan malas kita dengan cara "MEMAKSA" ya, paksakan diri untuk berubah. Kata memaksa disini bukan pula berarti tindak kekerasan. Maksudnya, kita menyadari banyak hal yang bermamfaat yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan kwalitas hidup kita. Kalau biasanya di hari libur kita malas bangun pagi, mulai sekarang kita biasakan bangun pagi. Gunakan waktu libur untuk sejenak berolahraga ataupun relaksasi untuk merilekskan otot otot setelah enam hari sebelumnya diperas. Kalau biasanya kita anti mandi pagi disaat tanggal merah. Usahakan mulai memperbaiki diri, karena dengan tubuh yang fresh, otakpun akan merespons lebih baik.
Malas memang alami terjadi. Namun, kita melihat banyak orang orang diluar sana yang mampu membuang jauh jauh rasa malas dan menggantinya dengan semangat tiada mati. Bukan berarti juga mereka tidak pernah merasa lelah. Namun, mereka punya prinsip dan prinsip itu selalu mereka jaga. Kelak saat mereka sudah berjaya segala rasa lelah, frustasi, letih yang selama ini dihadapinya telah terganti dengan hasil yang memuaskan hati.
Kawan, Malas bisa membuat potensimu mati. Bunuh rasa malasmu!
Ayo bergerak....
#30DWC hari ke 26
Kamis, 10 Maret 2016
Tersadar aku
Mulailah menghargai jasa jasa mereka
Hidup yang telah kita lalui tidak pernah terkepas dari peran serta orang orang terkasih yang setiap saat meluapkan rasa yang tak terkira besarnya untuk kebahagian kita.
Kita begitu menikmatinya. Bersenang senang dalam kemudahan dan meniadakan kepayahan mereka. Saat dirimu butuh, sekonyong konyong engkau hampiri mereka dan menceritakan keluh kesahmu. Dengan disertai senyuman, Mereka selalu ada untukmu. Ketika engkau memberi kabar baik, tak henti hentinya mereka mengucap syukur pada sang pencipta dan ketika sedih melandamu, tahukah engkau, mereka jauh lebih merasakan kesedihanmu itu. Dalam setiap sujudnya dia rangkaikan doa demi doa untuk keselamatanmu.
Tak banyak hal yang dimintanya darimu. Kadang hanya sebatas ucapan yang melapangkan hatinya, mengobati rindunya dan mengusir kekhawatirannya. Sadarkah engkau disaat kapanpun, Saat engkau sedih, saat engkau gembira, bahkan saat kau marah padanya, tangannya yang hangat akan selalu menyambutmu.
Mereka orang orang yang rela terluka demi senyumanmu. Mereka pancaran bintang keabadian. Sinarnya tak pernah pudar walau malam menerjang, karena saat itulah kilauannya semakin memakau.
Sudah saatnya dirimu menunjukkan balasan. Walaupun apapun didunia ini tak akan mampu disandingkan dengan cinta kasih yang telah mereka berikan, Cukuran peluh tak pernah mereka risihkan. Sengatan matahari tak pernah mereka hiraukan, linangan air mata kerinduan, berjuta juta sengatan kemarahan yang engkau lontarkan tak pernah mengusik rasa kasih mereka terhadapmu. Jantung permata hatinya.
Allah...
Ampunilah aku...
Ayah ibu, maafkanlah anakmu...
Anak yang belum bisa memaknai perjuanganmu...
Anak yang belum bisa dijadikan sandaran bahumu..
Anak yang selalu memicu air matamu...
Bunda... Ayahanda
Dengan segenap rasa kasih
Aku mencintaimu...
#30DWC hari ke 25
Hidup yang telah kita lalui tidak pernah terkepas dari peran serta orang orang terkasih yang setiap saat meluapkan rasa yang tak terkira besarnya untuk kebahagian kita.
Kita begitu menikmatinya. Bersenang senang dalam kemudahan dan meniadakan kepayahan mereka. Saat dirimu butuh, sekonyong konyong engkau hampiri mereka dan menceritakan keluh kesahmu. Dengan disertai senyuman, Mereka selalu ada untukmu. Ketika engkau memberi kabar baik, tak henti hentinya mereka mengucap syukur pada sang pencipta dan ketika sedih melandamu, tahukah engkau, mereka jauh lebih merasakan kesedihanmu itu. Dalam setiap sujudnya dia rangkaikan doa demi doa untuk keselamatanmu.
Tak banyak hal yang dimintanya darimu. Kadang hanya sebatas ucapan yang melapangkan hatinya, mengobati rindunya dan mengusir kekhawatirannya. Sadarkah engkau disaat kapanpun, Saat engkau sedih, saat engkau gembira, bahkan saat kau marah padanya, tangannya yang hangat akan selalu menyambutmu.
Mereka orang orang yang rela terluka demi senyumanmu. Mereka pancaran bintang keabadian. Sinarnya tak pernah pudar walau malam menerjang, karena saat itulah kilauannya semakin memakau.
Sudah saatnya dirimu menunjukkan balasan. Walaupun apapun didunia ini tak akan mampu disandingkan dengan cinta kasih yang telah mereka berikan, Cukuran peluh tak pernah mereka risihkan. Sengatan matahari tak pernah mereka hiraukan, linangan air mata kerinduan, berjuta juta sengatan kemarahan yang engkau lontarkan tak pernah mengusik rasa kasih mereka terhadapmu. Jantung permata hatinya.
Allah...
Ampunilah aku...
Ayah ibu, maafkanlah anakmu...
Anak yang belum bisa memaknai perjuanganmu...
Anak yang belum bisa dijadikan sandaran bahumu..
Anak yang selalu memicu air matamu...
Bunda... Ayahanda
Dengan segenap rasa kasih
Aku mencintaimu...
#30DWC hari ke 25
Langganan:
Postingan (Atom)